Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/19239
Title: Uji Efektifitas Aplikasi Berbagai Warna Dan Letak Ketinggian (Perangkap) Dalam Pengendalian Hama Pbko Di Kebun Kopi Sigarar Utang Desa Motung Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir
Other Titles: Test the Effectiveness of Various Color and Position Applications Elevation (Traps) In Pest Control Pbko at Sigarar Coffee Plantation Motung Village Debt Ajibata District, Toba Samosir Regency
Authors: Zulafri
Keywords: debt sigarar coffe;hypothenemus hampei (ferr);fruit productivity;kpi sigarar utang;produktifitas buah
Issue Date: Aug-2022
Publisher: Universitas Medan Area
Series/Report no.: NPM;158210084
Abstract: Kopi merupakan salah satu hasil komoditi perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan berperan penting sebagai sumber devisa negara. Kopi tidak hanya berperan penting sebagai sumber devisa melainkan juga merupakan sumber penghasilan bagi tidak kurang dari satu setengah juta jiwa petani kopi di Indonesia. Keberhasilan agribisnis kopi membutuhkan dukungan semua pihak yang terkait dalam proses produksi kopi pengolahan dan pemasaran komoditas kopi. Upaya meningkatkan produktivitas dan mutu kopi terus dilakukan sehingga daya saing kopi di Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. (Rahardjo, 2012). Buah kopi muda yang terserang PBKo dapat mengalami gugur buah muda, kualitas dan kuantitas panen juga menurun karena bekas serangan pada biji menyebabkan, cacat cita rasa (Damon, 2000; Jaramillo, Borgemeister & Baker, 2006; Romero & Cortina, 2007). Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 30 -50 butir. Telur menetas menjadi larva yang menggerek biji kopi. Larva menjadi kepompong di dalam biji dan dewasa (kumbang) keluar dari kepompong. Jantan dan betina kawin di dalam buah kopi, kemudian sebagian betina terbang ke buah lain untuk masuk, lalu bertelur lagi (PCW, 2002). Serangga dewasa atau imago. perbandingan antara serangga betina dengan serangga jantan rata-rata 10:1. Namun, pada saat akhir panen kopi populasi serangga mulai turun karena terbatasnya makanan, populasi serangga hampir semuanya betina, karena serangga betina memiliki umur yang lebih panjang dibanding serangga jantan. Pada kondisi demikian perbandingan serangga betina dan jantan dapat mencapai 500:1. Serangga jantan H.hampei tidak bisa terbang, oleh karena itu mereka tetap tinggal pada liang gerekan di dalam biji. Umur serangga jantan hanya 103 hari, sedang serangga betina dapat mencapai 282 hari dengan ratarata 156 hari. Serangga betina mengadakan penerbangan pada sore hari, yaitu sekitar pukul 16.00 sampai dengan 18.00 (Wiryadiputra, 2007). Coffee is a plantation commodity that has high economic value and plays an important role as a source of foreign exchange for the country. Coffee does not only play an important role as a source of foreign exchange but is also a source of income for no less than one and a half million coffee farmers in Indonesia. The success of coffee agribusiness requires the support of all parties involved in the process of coffee production, processing and marketing of coffee commodities. Efforts to increase the productivity and quality of coffee continue to be made so that the competitiveness of coffee in Indonesia can compete in the world market. (Rahardjo, 2012). Young coffee cherries infected with PBKo can experience young fruit fall, the quality and quantity of the harvest also decreases because the scars on the beans cause taste defects (Damon, 2000; Jaramillo, Borgemeister & Baker, 2006; Romero & Cortina, 2007). The female beetle burrows into the coffee beans and lays around 30 -50 eggs. The eggs hatch into larvae which burrow into the coffee beans. Larvae pupate inside the seed and adults (beetles) emerge from the cocoon. Males and females mate inside the coffee cherries, then some of the females fly to other pods to enter, then lay their eggs again (PCW, 2002). Adult insects or imago. the ratio between female insects and male insects averages 10:1. However, at the end of the coffee harvest the insect population begins to decline due to limited food, almost all of the insect populations are female, because female insects have a longer lifespan than male insects. In such conditions the ratio of female and male insects can reach 500:1. The male H.hampei insects cannot fly, therefore they remain in the burrows inside the seeds. The lifespan of male insects is only 103 days, while female insects can reach 282 days with an average of 156 days. Female insects make flights in the afternoon, which is around 16.00 to 18.00 (Wiryadiputra, 2007)
Description: 110 Halaman
URI: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/19239
Appears in Collections:SP - Agricultural Technology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
158210084 - Zulafri - Chapter IV.pdf
  Restricted Access
Chapter IV533.12 kBAdobe PDFView/Open Request a copy
158210084 - Zulafri - Fulltext.pdfCover, Abstract, Chapter I, II, III, V, Bibliography1.58 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.