Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/29525
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorNasution, Jamilah-
dc.contributor.authorMukhsin, Muhammad-
dc.date.accessioned2026-03-05T07:12:36Z-
dc.date.available2026-03-05T07:12:36Z-
dc.date.issued2025-08-
dc.identifier.urihttps://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/29525-
dc.description33 Halamanen_US
dc.description.abstractUpacara pernikahan adat Melayu merupakan tradisi yang sarat makna, karena berbagai jenis tumbuhan digunakan sebagai simbol kesucian, keberkahan, dan harapan bagi kehidupan rumah tangga. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis tumbuhan yang digunakan dalam upacara pernikahan adat Melayu di Tanjung Balai serta menjelaskan cara pemanfaatan dan makna budayanya. Pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif dengan metode wawancara semi terstruktur terhadap 12 informan yang meliputi tokoh adat, juru masak, dan masyarakat setempat. Hasil menunjukkan adanya 29 jenis tumbuhan dari 25 suku yang dimanfaatkan dalam lima tahapan prosesi adat, yaitu malam berinai, tepak sirih, tepung tawar, bale, dan nasi hadap-hadapan. Famili Arecaceae menjadi kelompok yang paling dominan, sedangkan bagian tumbuhan yang banyak digunakan adalah bunga dan buah. Setiap jenis memiliki makna filosofis tersendiri, seperti daun sirih yang melambangkan penghormatan dan daun inai yang mencerminkan kesetiaan. Pemanfaatan tumbuhan dalam upacara pernikahan adat Melayu tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap ritual, tetapi juga mencerminkan kearifan budaya lokal serta pengetahuan etnobotani yang diwariskan secara turun-temurun. The traditional Malay wedding ceremony is a meaningful cultural tradition, where various plant species are used as symbols of purity, blessings, and hopes for a harmonious household. This study aims to identify the plant species utilized in the traditional Malay wedding ceremony in Tanjung Balai and to describe their uses and cultural meanings. A qualitative descriptive approach was employed through semi-structured interviews with 12 informants consisting of traditional leaders, cooks, and local community members. The results revealed 29 plant species from 25 families used in five main ceremonial stages, namely malam berinai, tepak sirih, tepung tawar, bale, and nasi hadap-hadapan. The Arecaceae family was the most dominant, while flowers and fruits were the most commonly used plant parts. Each plant carries its own philosophical meaning, such as betel leaves symbolizing respect and henna leaves representing loyalty. The use of plants in the Malay traditional wedding ceremony serves not only as a ritual complement but also reflects local cultural wisdom and traditional ethnobotanical knowledge passed down through generations.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Medan Areaen_US
dc.relation.ispartofseriesNPM;188700040-
dc.subjectTumbuhanen_US
dc.subjectAdat Pernikahanen_US
dc.subjectMelayuen_US
dc.subjectTanjung Balaien_US
dc.subjectPlantsen_US
dc.subjectWedding Ceremonyen_US
dc.subjectMalayen_US
dc.titleKeanekaragaman Tumbuhan dan Penggunaannya dalam Upacara Adat Pernikahan Melayu di Tanjung Balaien_US
dc.title.alternativePlant Diversity and Its Use in Malay Traditional Wedding Ceremonies in Tanjung Balaien_US
dc.typeThesisen_US
Appears in Collections:SP - Biology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
188700040 - Muhammad Mukhsin - Fulltext.pdfCover, Abstract, Chapter I, II, III, V, Bibliography934.03 kBAdobe PDFView/Open
188700040 - Muhammad Mukhsin - Chapter IV.pdf
  Restricted Access
Chapter IV727.44 kBAdobe PDFView/Open Request a copy


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.