Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/30415
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorZulyadi, Rizkan-
dc.contributor.advisorPinem, Serimin-
dc.contributor.authorLampabe, Dessy Dara-
dc.date.accessioned2026-07-21T03:19:46Z-
dc.date.available2026-07-21T03:19:46Z-
dc.date.issued2026-04-
dc.identifier.urihttps://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/30415-
dc.description89 Halamanen_US
dc.description.abstractPenelitian ini menganalisis tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kabupaten Asahan pada periode 2018–2023, dengan fokus pada modus operandi, kebijakan kriminal, serta hambatan dalam penegakan hukum. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif, dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis peraturan perundang-undangan, dokumen resmi kepolisian, laporan tahunan, serta literatur ilmiah terkait TPPO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modus operandi TPPO mengalami evolusi dari metode tradisional menuju bentuk modern yang memanfaatkan teknologi, media sosial, dan jaringan lintas wilayah. Pelaku menggunakan berbagai cara, termasuk perekrutan pekerja migran tanpa izin, pemalsuan dokumen, eksploitasi domestik, serta eksploitasi anak di sektor perkebunan. Kejahatan ini menekankan eksploitasi ekonomi dan seksual terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak, serta pemanfaatan ketidaktahuan korban terkait prosedur hukum dan migrasi resmi. Penanganan TPPO di Kabupaten Asahan dilakukan melalui kombinasi strategi penal dan non-penal. Pendekatan penal menekankan penegakan hukum yang tegas dan berorientasi pada korban, melalui peningkatan kapasitas penyidik, pembentukan unit khusus, penindakan jaringan terorganisasi, dan optimalisasi penyitaan aset. Pendekatan non-penal fokus pada pencegahan melalui edukasi publik, penyuluhan modus rekrutmen ilegal, penguatan jejaring masyarakat, pemantauan wilayah rawan, dan layanan terpadu bagi korban. Namun, penegakan hukum menghadapi berbagai hambatan, baik struktural, prosedural, sosial, maupun kelembagaan, seperti keterbatasan sumber daya, rendahnya kesadaran hukum masyarakat, trauma korban, serta kompleksitas modus operandi yang bersifat transnasional dan tersembunyi. Untuk itu, efektivitas penegakan TPPO memerlukan strategi komprehensif yang mencakup penguatan kapasitas aparat, sistem perlindungan korban yang memadai, kebijakan preventif berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat, kolaborasi multi-pihak, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan terhadap bentuk-bentuk baru TPPO. This study analyzes human trafficking (TPPO) in Asahan Regency during the period 2018–2023, focusing on modus operandi, criminal policies, and enforcement obstacles. The study employs a normative legal research method, using library research and analysis of legislation, official police documents, annual reports, and scholarly literature related to TPPO. The results indicate that TPPO modus operandi has evolved from traditional methods to modern forms that utilize technology, social media, and cross-regional networks. Perpetrators carry out various actions, including recruiting migrant workers without authorization, document forgery, domestic exploitation, and child exploitation in the plantation sector. These crimes emphasize economic and sexual exploitation of vulnerable groups, particularly women and children, and exploit victims’ lack of knowledge regarding legal procedures and legal migration. TPPO handling in Asahan Regency is conducted through a combination of penal and non-penal strategies. The penal approach emphasizes firm law enforcement oriented toward victims, through enhanced investigator capacity, establishment of special units, actions against organized networks, and optimization of asset seizure. The non-penal approach focuses on prevention through public education, awareness campaigns on illegal recruitment methods, strengthening community networks, monitoring high-risk areas, and providing integrated services for victims. However, law enforcement faces various structural, procedural, social, and institutional obstacles, including limited resources, low public legal awareness, victim trauma, and the complexity of transnational and covert modus operandi. To enhance the effectiveness of TPPO enforcement, a comprehensive strategy is required, including strengthening law enforcement capacity, providing adequate victim protection systems, implementing preventive policies based on education and community empowerment, fostering multi-stakeholder collaboration, and conducting continuous monitoring and evaluation of emerging forms of TPPO.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Medan Areaen_US
dc.relation.ispartofseriesNPM;231803036-
dc.subjectPerdagangan Orangen_US
dc.subjectTindak Pidana Perdagangan Orangen_US
dc.subjectPenegakan Hukumen_US
dc.subjectKebijakan Kriminalen_US
dc.subjectPolres Asahanen_US
dc.subjecthuman traffickingen_US
dc.subjectTPPOen_US
dc.subjectlaw enforcementen_US
dc.subjectcriminal policyen_US
dc.titlePenegakan Hukum terhadap Pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (Studi di Polres Asahan)en_US
dc.title.alternativeLaw Enforcement Against Perpetrators of Human Trafficking (A Study at The Asahan Police Station)en_US
dc.typeThesisen_US
Appears in Collections:MT - Master of Law

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
231803036 - Dessy Dara Lampabe - Fulltext.pdfCover, Abstract, Chapter I, II, III, V, Bibliography1.01 MBAdobe PDFView/Open
231803036 - Dessy Dara Lampabe - Chapter IV.pdf
  Restricted Access
Chapter IV456.88 kBAdobe PDFView/Open Request a copy


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.