Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/30666
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorRamadhan, M. Citra-
dc.contributor.advisorFrensh, Wenggedes-
dc.contributor.authorSiagian, Zhoffi Mahari-
dc.date.accessioned2026-08-03T04:57:56Z-
dc.date.available2026-08-03T04:57:56Z-
dc.date.issued2026-04-09-
dc.identifier.urihttps://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/30666-
dc.description70 Halamanen_US
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis penanggulangan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di wilayah hukum Polda Bengkulu, dengan fokus pada peran kepolisian, kendala yang dihadapi, serta solusi yang diterapkan. Penelitian ini menggunakan metode field research dengan pendekatan studi kasus deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Lokasi penelitian dilakukan di Polda Bengkulu, khususnya di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum), dengan periode penelitian dari Maret hingga Juli 2024. Informan penelitian terdiri dari 4 penyidik Ditreskrimum, 1 anggota Polda Bengkulu, dan 2 masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencurian kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, merupakan kejahatan yang marak terjadi di wilayah Bengkulu, dengan modus operandi yang semakin terorganisir dan melibatkan jaringan luas. Faktor utama yang mendorong tingginya angka curanmor meliputi lemahnya sistem pengamanan kendaraan, faktor ekonomi, serta tingginya permintaan pasar terhadap suku cadang kendaraan bermotor bekas. Polda Bengkulu telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti meningkatkan patroli rutin, razia malam hari, operasi gabungan, dan pemanfaatan teknologi seperti CCTV. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan alat pengaman tambahan dan parkir di tempat yang aman juga menjadi bagian dari strategi pencegahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penanganan curanmor memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer dapat dilakukan melalui peningkatan akses pendidikan dan lapangan pekerjaan, sementara pencegahan sekunder melibatkan patroli rutin dan pemanfaatan teknologi. Pencegahan tersier difokuskan pada rehabilitasi dan reintegrasi mantan pelaku ke masyarakat. Sinergi antara kepolisian, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka kejahatan curanmor dan menciptakan lingkungan yang lebih aman. This research aims to analyze the mitigation of motor vehicle theft crimes (curanmor) within the jurisdiction of the Bengkulu Regional Police (Polda Bengkulu), focusing on the role of the police, the challenges faced, and the solutions implemented. This study employs a field research method with a descriptive case study approach, involving data collection through observation, in-depth interviews, and document analysis. The research was conducted at Polda Bengkulu, specifically at the Directorate of General Criminal Investigation (Ditreskrimum), from March to July 2024. The informants consisted of 4 Ditreskrimum investigators, 1 member of Polda Bengkulu, and 2 members of the community. The results indicate that motor vehicle theft, particularly motorcycles, is a prevalent crime in Bengkulu, with increasingly organized modus operandi and extensive networks. The main factors driving the high rate of curanmor include weak vehicle security systems, economic factors, and high market demand for used motor vehicle parts. Polda Bengkulu has undertaken various preventive measures, such as increasing routine patrols, night raids, joint operations, and the use of technology like CCTV. Additionally, public education on the importance of using additional security devices and parking in safe locations is also part of the prevention strategy. The conclusion of this research is that addressing curanmor requires a comprehensive approach involving primary, secondary, and tertiary prevention. Primary prevention can be achieved through improved access to education and employment opportunities, while secondary prevention involves routine patrols and the use of technology. Tertiary prevention focuses on the rehabilitation and reintegration of former offenders into society. Synergy between the police, government, and the community is key to reducing curanmor crime rates and creating a safer environment.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Medan Areaen_US
dc.relation.ispartofseriesNPM;231803043-
dc.subjectCrime Preventionen_US
dc.subjectMotor Vehicle Theft (Curanmor)en_US
dc.subjectBengkulu Regional Police (Polda Bengkulu)en_US
dc.subjectPencegahan Kejahatanen_US
dc.subjectPencurian Kendaraan Bermotoren_US
dc.titlePeran Kepolisian dalam Penanggulangan Tindak Pidana Pencurian Kenderaan Bermotor di Wilayah Hukum Polda Bengkuluen_US
dc.title.alternativeThe Role of the Police in Combating Motor Vehicle Theft Crimes in the Jurisdiction of the Bengkulu Regional Policeen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
Appears in Collections:MT - Master of Law

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
231803043 - Zhoffi Mahari P Siagian - Chapter IV.pdf
  Restricted Access
Chapter IV2.8 MBAdobe PDFView/Open Request a copy
231803043 - Zhoffi Mahari P Siagian - Fulltext.pdfCover, Abstract, Chapter I, II, III, V, Bibliography1.03 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.