Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/7247
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorAfifuddin, Sya'ad-
dc.contributor.advisorLubis, Satia Negara-
dc.contributor.authorMaslizar-
dc.date.accessioned2018-01-10T02:41:27Z-
dc.date.available2018-01-10T02:41:27Z-
dc.date.issued2005-10-01-
dc.identifier.urihttps://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/7247-
dc.descriptionSebagai salah satu sistem, agribisnis pembibitan di Kabupaten Deli Serdang mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Kebijakan pemerintah dalam pelestarian hutan dan reboisasi lahan memberikan peluang pengembangan agribisnis pembibitan di Kabupaten Deli Serdang. Kebijakan pemerintah tersebut meningkatkan permintaan terhadap bibit tanaman, khususnya jenis tanaman hutan, walaupun untuk beberapa jenis mengalami kendala ketersediaan benih yang sangat terbatas. Peningkatan permintaan bibit tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pendapatan penangkar, yang selanjutnya dengan peningkatan pendapatan ini para penangkar diharapkan dapat mengembangkan agrbisnis pembibitan di Kabupaten Deli Serdang. Dari segi budidaya, penangkar masih menghadapi risiko kegagalan khususnya pada umur awal pembibitan, sehingga membutuhkan perawatan intensif. Risiko juga disebabkan bibit tanaman yang afkir karena lewat umur untuk dipindahkan ke lapangan. Hingga saat ini pemasaran bibit oleh penangkar di Kabupaten Deli Serdang belum teratur, yang juga disebabkan belum adanya suatu organisasi pemersatu para penangkar. Tingginya ketergantungan terhadap permintaan bibit dari proyek reboisasi menyebabkan lemahnya posisi tawar penangkar, khususnya dalam penentuan harga bibit. Lemahnya posisi tawar penangkar akibai tingginya ketergantungan terhadap proyek reboisasi dapat diperbalki dengan melakukan pengaturan terhadap sistem pemasaran, yaitu melalui suatu organisasi berbadan hukum. Melalui organisasi tersebut, para penangkar dapat melakukan hubungan kontraktual dengan pihak-pihak terkait, baik pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan juga penanggungjawab pelaksanaan reboisasi, khususnya dinas kehutanan, juga dengan para kontraktor pemborong proyek-proyek reboisasi serta dengan lembaga-lembaga penelitian di dalam maupun di luar negeri untuk memperoleh sumber benih dengan pasti. Organisasi tersebut juga dapat dijadikan sebagai wadah pemasaran bibit-bibit yang dihasilkan dan sebagai sumber baban-bahan produksi, seperti benih, pupuk dan obat-obatan.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Medan Areaen_US
dc.subjectpermasalahan pengembangan agribisnisen_US
dc.subjectstrategi pengembangan agribisnisen_US
dc.subjectpengembangan agribisnis pembibitanen_US
dc.titleAnalisis Permasalahan dan Strategi Pengembangan Agribisnis Pembibitan (Nursery) di Kabupaten Deli Serdangen_US
dc.typeTesis Magisteren_US
Appears in Collections:MT - Master of Agribusiness

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
031802021.pdfFulltext858.32 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.