Please use this identifier to cite or link to this item: https://repositori.uma.ac.id/handle/123456789/9785
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.advisorMunir, Abdul-
dc.contributor.advisorFauzia, Rahma-
dc.contributor.authorLubis, Ira Syahriani-
dc.date.accessioned2019-01-14T01:07:35Z-
dc.date.available2019-01-14T01:07:35Z-
dc.date.issued2018-10-10-
dc.identifier.urihttp://repository.uma.ac.id/handle/123456789/9785-
dc.descriptionPenelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan motif berafiliasi pada remaja budaya batak mandailing dan jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Subjek penelitian adalah remaja budaya Batak Mandailing dan Jawa di Kelurahan Sei Kerah Hilir I. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel terikat, yaitu Motif Berafiliasi pada Remaja dan variabel bebas, yaitu Budaya. dimana dalam penelitian ini menggunakan budaya Batak Mandailing dan Jawa. Populasi pada penelitian ini sebanyak 79 orang, dengan sampel yang terdiri dari 36 orang remaja budaya Jawa dan 43 orang remaja budaya Batak Mandailing. Dengan hipotesis ada perbedaan motif berafiliasi pada remaja budaya Batak Mandailing dan Jawa. Diasumsikan bahwa motif berafiliasi pada remaja budaya Batak Mandailing lebih tinggi dibandingkan dengan motif berafiliasi budaya Jawa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert dan diolah dengan program SPSS Statistic 17.0 for windows. Untuk menguji hipotesis yang diajukan menggunakan teknik Analisis 1 Jalur. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan maka diperoleh hasil bahwa ada perbedaan motif berafiliasi pada remaja budaya Batak Mandailing dan Jawa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa motif berafiliasi pada remaja budaya Jawa memiliki nilai mean empirik 83,03 dengan mean hipotetik 87,5. Yang berarti bahwa mean empirik lebih rendah dari mean hipotetik. Hal ini menyatakan bahwa motif berafiliasi pada remaja budaya Jawa tergolong sedang. Sedangkan motif berafiliasi remaja budaya Batak Mandailing memiliki nilai mean empirik 110,09 dengan mean hipotetik 87,5. Yang berarti bahwa mean empirik lebih tinggi dari mean hipotetik. Hal ini menyatakan bahwa motif berafiliasi pada remaja budaya Batak Mandailing tergolong tinggi dengan P = 0,000 (P < 0,050). Hal ini berarti motif berafiliasi pada remaja Budaya Batak Mandailing tergolong tinggi dan motif berafiliasi pada remaja Budaya Jawa tergolong sedang.en_US
dc.description.abstractThis study aims to see differences in affiliation motives for adolescents of Batak Mandailing and Javanese culture. The method used in this research is quantitative method. Research subjects were adolescents of Batak Mandailing and Javanese culture at Kelurahan Sei Kerah Hilir I. This research variable consists of dependent variable is affiliation motives to adolescents and Independent Variable is culture. The population in this study were 79 people, with a sample of 36 adolescents Javanese culture and 43 adolescents Batak Mandailing culture. The hypothesis there are differences in affiliation motives with adolescents of Batak Mandailing and Java culture. It is assumed that the affiliation motives to adolescent Batak Mandailing culture is higher than the affiliation motives with Javanese culture. The data is carried out using a Likert scale and processed with the program SPSS Statistic 17.0 for windows. To test the proposed hypothesis by using a one-way analysis technique. Based on the results of data analysis, the results show that there are differences in affiliation motives for adolescents of Batak Mandailing and Javanese culture. The results of this study indicate that the affiliation motives in adolescents Javanese culture has an empirical mean value of 83,03 with a hypothesis mean 87,5. Which means that the empirical mean is lower than the hypothesis mean. This states that the affiliation motives in adolescents Javanese culture are classified as medium. While the affiliation motives with a adolescents Batak Mandailing culture has an empirical mean value of 110,09 with a hypothesis mean 87,5. Which means that the empirical mean is higher than the hypothesis mean. This states that the affiliation motives in adolescents Batak Mandailing are are classified as higher with P=0,000 (P < 0.050). This means that the affiliation motives in adolescents Batak Mandailing culture are classified as higher and the affiliation motives in adolescents of Javanese culture are classified as medium.en_US
dc.language.isoiden_US
dc.publisherUniversitas Medan Areaen_US
dc.subjectbudayaen_US
dc.subjectbatak mandailingen_US
dc.subjectjawaen_US
dc.subjectmotif berafiliasien_US
dc.subjectremajaen_US
dc.subjectadolescenten_US
dc.titlePerbedaan Motif Berafiliasi pada Remaja Budaya Batak Mandailing dan Jawa di Kelurahan Sei Kerah Hilir Ien_US
dc.typeSkripsi Sarjanaen_US
Appears in Collections:SP - Psychology

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
Ira Syahriani Lubis - fulltext.pdfFulltext9.55 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.